Postingan

Menyesal

Gambar
sumber gambar dari  sini Kata itu hampir punah dari kamus dalam otakku. Bukan punah dalam artian positif. Tapi pada kenyataan sebaliknya. Bagaimana aku memulai semangat dengan sebuah slogan ‘tidak ada kata menyesal dalam hidup ini’. Setelah berkian tahun aku melupakannya. Menjalani hidup dengan berbagai keluhan dan penyesalan atas apa yang sudah terjadi dan ku alami. Menyesal kembali muncul belakangan ini.

Kehidupan

Gambar
gambar dari sini Jika saja ada beberapa kamera, akan kulambaikan tangan. Jika saja ada bendera putih, akan kukibarkan. Namun, tidak untuk saat ini. Saat dimana manusia diberi karunia hidup untuk mempergunakan waktu dan mengumpulkan sebanyaknya bekal di kehidupan yang menanti. Sayangnnya, kehidupan akan terus berlangsung. Sayangnya, tak bisa berhenti di tengah jalan. Sayangnya, waktu terus berjalan. Sayangnya, manusia masih dituntut oleh alam yang akan datang.

Dialogku dengan Bab 4

“Apa yang Kau lakukan, cepat gerakkan jarimu pada tombol-tombol itu!” teriaknya padaku   “Apa maksudmu, jariku tak bersalah..” “Kau sendiri, sudah berapa kali kutanyakan apa sebenarnya yang ada di kepalamu..? mengapa begitu rumit menuangkannya dalam bentuk kata-kata” “Kau yang membuat konsepnya, kenapa bertanya kepadaku..?” “Sudahlah, hentikan omong kosong ini, Aku lelah meladenimu.” “Lalu Kau akan berhenti begitu saja, membiarkanku lapuk dan tak berguna sampai dimakan waktu..?!”

“Sebuah Penyesalan dan Indahnya Persahabatan”

Teman, Hargailah kawanmu karena persahabatan itu sungguh indah. Jika saja aku dapat kembali ke masa SMA ku, akan aku perbaiki sikap terlalu pendiamku itu, karena membuatku tidak dekat dengan banyak orang, hanya segelintir saja. Saat SMA, aku dikenal sebagai seorang yang pendiam, hal itu menyebabkan teman-temanku agak segan kepadaku. Tapi, bukan berarti saya tidak punya teman sama sekali, saya juga mempunyai sekelompok teman dekat karena bangku mereka berada di depan, belakang, atau samping kanan dan kiriku. Semenjak memutuskan untuk bersekolah di SMA, aku selalu merasa kesulitan bergaul dengan teman-teman satu sekolahku itu, pasalnya aku sudah lama tak bergaul dengan orang-orang yang basic pendidikannya dari umum. Pendidikan sebelumnya aku tempuh di madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Bukan merasa terisolasi karena kedua madrasah teresebut memisahkan murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang berbeda, namun, karena itulah aku menjadi canggung jika harus berbicara dengan seo...

Kejahatan dan Makanan

Begitulamanya tangan ini tak mengutarakan unek-uneknya hanya sekedar untuk menyenangkan dan menyemangati diri sendiri, hingga berasa bingung apa yang akan dituliskan. Karena lebih terasa kaku dan mentok pada satu sisi, di sisi lain, kehilangan gaya bahasa yang biasa digunakan. Mencoba menemukan kembali bagaimana bentuk kalimat yang dibuat oleh tuts-tuts yang ditekan jari-jariku.

Bisikku, Tuhan.

Dan jika semua kabut menjadi hitam, temaram langit menggelap. Kepulan asap seolah mengaburkan semua impian dan do’a yang dilayangkan semua manusia yang setiap malam mereka panjatkan dengan mengulurkan kedua tangannya. Rembulan menyembul, merona, memancarkan cahaya kekuningan malu bak pengantin baru. Gemerisik angin kembali mengaburkan cahaya itu seakan tidak rela membiarkan para penikmat mengagumi keindahannya.

Indah adalah Proses

Mereka memandangku dengan picingan mata. Baiklah, aku terima. Mungkin saat ini memang seharusnya aku masih berada dalam roda bawah kehidupan. Tapi aku yakin, suatu saat nanti roda itu akan berputar dan mengguling kehidupanku meskipun tak menuju atas. Aku yakin dengan melihat teman-temanku. Mereka masih sangat muda dan berhasil, mereka mempunyai keahlian sendiri hingga mampu menjadi pembicara utama pada sebuah forum nasional.